Babak Baru Drama Utang Whoosh: Estafet Beralih dari Danantara ke Kemenkeu

Sulutexpres.com – 06 Agustus 2026 | Drama pembiayaan utang proyek kereta cepat Whoosh memasuki babak baru yang signifikan. Estafet tanggung jawab pembayaran utang kini beralih dari Danantara ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Keputusan ini menandai langkah strategis pemerintah dalam menyelesaikan persoalan finansial proyek ambisius tersebut.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengonfirmasi bahwa sekitar 60% saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh, akan dialihkan dari Danantara ke Kemenkeu. Proses administrasi pengalihan kepemilikan ini ditargetkan selesai pada pertengahan September 2026. Langkah ini diambil untuk mempercepat penyelesaian utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

“Kereta api cepat Jakarta-Bandung, ini kan diserahkan dari Danantara, kasih ke Kementerian Keuangan, prosesnya akan kami percepat. Pertengahan September sudah akan clear,” ujar Purbaya usai pertemuan dengan COO Danantara, Dony Oskaria, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).

Dalam skema baru ini, aset KCIC akan berada di bawah pengelolaan Kemenkeu. Namun, pengelolaan operasionalnya tidak akan langsung membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya menjelaskan bahwa Kemenkeu akan menunjuk salah satu Special Mission Vehicle (SMV) fiskal milik pemerintah, seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) atau lembaga pembiayaan infrastruktur lainnya, untuk mengelola saham tersebut. Dengan demikian, keuntungan dari SMV tersebut dapat digunakan untuk menutupi sebagian kewajiban tanpa harus menyuntikkan dana APBN secara langsung.

“Dialihkan ke Kementerian Keuangan. Tapi nanti akan kita pakai salah satu tangan BUMN, SMV fiskal kita untuk mengelola itu. Jadi tidak langsung jadi tanggung jawab APBN. Walaupun dikelola pemerintah, tidak akan membebani APBN,” jelas Purbaya.

Perubahan struktur kepemilikan ini juga berarti kepemilikan saham KCIC tidak lagi berada di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau konsorsium BUMN lainnya seperti PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Purbaya menegaskan, “Di saya, bukan (di bawah KAI).”

Sementara itu, porsi kepemilikan 40% saham KCIC tetap dipegang oleh mitra dari China, yaitu Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Hal ini memastikan bahwa kerja sama antara Indonesia dan China dalam pengelolaan Whoosh tetap berlanjut. Pemerintah China juga dilaporkan masih menunjukkan komitmennya untuk melanjutkan kerja sama, bahkan membuka peluang untuk memperpanjang jalur kereta cepat hingga ke Jawa Timur.

Keputusan Kemenkeu mengambil alih saham KCIC ini terjadi di tengah berbagai manuver terkait pembiayaan proyek yang telah menelan investasi miliaran dolar. Sebelumnya, Danantara sempat disiapkan menjadi pihak yang menanggung beban utang ini, namun kini estafet tersebut telah resmi berpindah tangan.

Di sisi lain, PT Pegadaian (Persero) juga angkat suara mengenai rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) mereka di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menyusul pernyataan Danantara yang berencana mendorong sejumlah BUMN untuk IPO sebagai bagian dari strategi penciptaan nilai dan pendalaman pasar modal Indonesia. Sekretaris Perusahaan Pegadaian, Dwi Hadi Atmaka, menyatakan bahwa perusahaan masih fokus memperkuat fundamental bisnis dan transformasi, serta akan mengikuti kebijakan pemegang saham terkait rencana aksi korporasi di masa mendatang.

Kinerja keuangan Pegadaian pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih sebesar 84,4% YoY menjadi Rp 6,59 triliun, dengan total aset mencapai Rp 186,33 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan outstanding loan (OSL) gross yang melesat ke angka Rp 155,1 triliun.

Pengalihan saham KCIC ke Kemenkeu ini menjadi babak baru yang krusial dalam penyelesaian utang Whoosh, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengelola proyek strategis nasional ini agar tetap berjalan optimal tanpa memberatkan keuangan negara secara langsung.

Related Post

Terbaru