Rekor Kelam Terpecahkan: Ebola di Kongo Catat Angka Kematian Tertinggi dalam Sejarah, WHO Peringatkan Krisis Terburuk!

Author Image

Terbit

18 Agustus 2026, 02:42 WIB

Rekor Kelam Terpecahkan: Ebola di Kongo Catat Angka Kematian Tertinggi dalam Sejarah, WHO Peringatkan Krisis Terburuk!
Rekor Kelam Terpecahkan: Ebola di Kongo Catat Angka Kematian Tertinggi dalam Sejarah, WHO Peringatkan Krisis Terburuk!

Sulutexpres.com – 18 Agustus 2026 | Wabah Ebola yang terus berkecamuk di Republik Demokratik (RD) Kongo telah menorehkan catatan kelam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan lebih dari 2.300 kematian dilaporkan, wabah ini secara resmi menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut, melampaui tragedi Ebola sebelumnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa kondisi ini berpotensi menjadi krisis kesehatan terburuk dalam sejarah pencatatan medis.

Menurut angka resmi terbaru yang dirilis pada Minggu (16/8/2026), RD Kongo mencatat total 4.945 kasus terkonfirmasi, dengan angka kematian mencapai 2.325 jiwa. Tingkat fatalitas kasus (Case Fatality Rate) wabah kali ini mencapai 47,0 persen, sebuah angka yang mengkhawatirkan dan menunjukkan keganasan virus yang sedang dihadapi.

Rekor kematian ini secara signifikan melampaui angka yang tercatat pada wabah Ebola 2018-2020 di bagian timur RD Kongo, yang merenggut 2.299 nyawa dari 3.481 kasus. Wabah yang sedang berlangsung ini, yang merupakan wabah Ebola ke-17 sejak virus tersebut pertama kali teridentifikasi di negara itu pada 1976, secara resmi dinyatakan pada 15 Mei 2026. Penyebabnya adalah spesies virus Ebola Bundibugyo, sebuah galur yang tergolong langka dan belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi yang disetujui.

Dampak wabah ini sangat luas, menyentuh 55 zona kesehatan di enam provinsi: Ituri, Kivu Utara, Haut-Uele, Tshopo, Kivu Selatan, dan Bas-Uele. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah pengarahan pers pada Rabu (12/8/2026), mengungkapkan kekhawatirannya. “Wabah ini telah menjadi epidemi Ebola terbesar kedua dalam sejarah, dan penyebarannya lebih cepat daripada wabah Ebola sebelumnya. Dengan lajunya saat ini, wabah tersebut berpotensi melampaui wabah Ebola di Afrika Barat selama periode 2014 hingga 2016,” ujarnya. Epidemi Afrika Barat pada 2014-2016 memang tercatat sebagai yang terbesar, menginfeksi lebih dari 28.600 orang.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis Nature Medicine memberikan gambaran lebih dalam mengenai asal-usul wabah mematikan ini. Para peneliti dari RD Kongo, Uganda, Belgia, dan negara lainnya menganalisis susunan genetik sampel virus. Hasilnya menunjukkan bahwa virus Ebola Bundibugyo dalam wabah saat ini secara genetik berbeda dari wabah sebelumnya pada 2007 dan 2012. Studi ini menyimpulkan bahwa wabah kali ini bermula dari penularan baru virus dari hewan ke manusia, yang kemudian menyebar dengan cepat antarmanusia. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengujian dan pengurutan genom yang lebih luas untuk mendeteksi wabah secara dini di masa depan.

Penanganan wabah Ebola di Kongo menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Lokasi wabah di Kongo timur yang terisolasi, berbatasan dengan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda, memiliki akses jalan yang buruk dan rawan serangan kelompok bersenjata. Kondisi ini diperparah oleh aksi mogok kerja tenaga kesehatan akibat tunggakan gaji, serta maraknya disinformasi yang membuat warga enggan mencari pertolongan medis. WHO mencatat bahwa sekitar 90 persen kasus terkonfirmasi dan 80 persen kematian terjadi di Provinsi Ituri, menunjukkan adanya penularan yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Banyak kasus kematian masih terjadi di tengah masyarakat, bukan di pusat perawatan, dan banyak kasus terdeteksi di luar daftar kontak yang diketahui, mengindikasikan bahwa rantai penularan masih sulit diidentifikasi sepenuhnya.

Meskipun pemerintah setempat secara resmi mengumumkan status darurat pada 15 Mei 2026, analisis genetik mengonfirmasi virus telah menyebar secara tersembunyi sejak Februari 2026. WHO dan para ilmuwan kini tengah berupaya keras menjalankan uji klinis darurat untuk kandidat vaksin dan terapi baru guna menekan angka kematian. “Wabah ini telah mencatatkan awal yang cepat dan masih jauh berada di depan kita. Saat ini kita sedang berupaya keras untuk mengejarnya,” tegas Dr. Abdirahman Mahamud, Direktur Operasi Darurat Kesehatan WHO. Tingginya tingkat mortalitas pada wabah kali ini, yang disebabkan oleh spesies virus Ebola Bundibugyo, menjadi perhatian utama. Dengan kondisi yang masih terus berkembang, upaya penanggulangan yang ekstra keras dari seluruh pihak menjadi krusial untuk menghentikan penyebaran Ebola di Kongo yang kini mencatat angka kematian tertinggi dalam sejarah.

Related Post

Terbaru