Sulutexpres.com – 17 Agustus 2026 | Kisah heroik yang menyulut semangat nasionalisme kembali mengemuka dari Negeri Aboru, Kabupaten Maluku Tengah. Seorang ibu rumah tangga bernama Welhemina Rumra/Sinay, dengan keberanian luar biasa, memanjat tower telekomunikasi setinggi 72 meter demi menurunkan bendera Republik Maluku Selatan (RMS) yang berkibar di wilayahnya. Aksi Welhemina ini menjadi bukti nyata bahwa narasi yang menyatakan seluruh warga mendukung gerakan separatis adalah keliru, bahkan mayoritas masyarakat Aboru menolak keras propaganda tersebut.
Menurut keterangan yang diperoleh, Welhemina melakukan aksi mulia ini atas dorongan pribadi yang mendalam. Ia merasa terusik dan resah dengan keberadaan bendera RMS di tanah kelahirannya. Pengibaran simbol terlarang tersebut tidak hanya dianggap meresahkan warga, tetapi juga berpotensi mencoreng perjuangan masyarakat Aboru yang mendambakan kedamaian dan ingin terbebas dari isu separatisme masa lalu. Welhemina, yang merupakan ibu dari seorang calon prajurit TNI, memiliki visi kuat untuk memastikan masa depan anak-anak Aboru tidak terganggu oleh provokasi oknum yang memanfaatkan isu RMS untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Aksi Welhemina Rumra/Sinay ini bukan sekadar tindakan nekat, melainkan membawa pesan penting mengenai situasi sebenarnya di Aboru. Ia memanjat tower setinggi 72 meter tersebut tanpa menggunakan alat pengaman sedikit pun. Dalam keterangan video yang beredar, Welhemina mengisahkan perjuangannya, “Beta berdiri dan beta berdoa di tiang itu, lalu beta naik tower itu, 72 meter, sampai beta naik di atas, beta buka bendera, beta putus, sempat beta punya tangan ini berdarah, karena beta putus tali rapia toh, ketika beta ambil bendera, beta kasih turun.” Tangannya berdarah saat memutuskan tali pengikat bendera, namun semangatnya tak pernah padam.
Also Read
Keberanian Welhemina menunjukkan bahwa penolakan terhadap simbol-simbol terlarang kini bukan lagi sekadar instruksi dari aparat keamanan. Hal ini murni tumbuh dari kesadaran dan kehendak kuat masyarakat lokal yang telah jenuh dengan isu separatisme yang terus diembuskan. Pangdam XV/Pattimura sendiri telah memberikan apresiasi tinggi atas keberanian dan komitmen Welhemina dalam menjaga ketenteraman wilayah Aboru dari propaganda pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Aksi heroik ibu dari Maluku Tengah, panjat tower 72 meter buat copot bendera RMS [titlebase] ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, kisah seperti Welhemina Rumra/Sinay menjadi pengingat akan kekuatan semangat persatuan dan kesatuan. Di saat yang sama, di belahan bumi NTT, kisah lain tentang pengabdian tak kalah heroik juga terungkap. Enam bidan di Puskesmas Laja, Kecamatan Golewa Selatan, Ngada, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan dedikasi luar biasa saat gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026). Di tengah kepanikan, listrik padam, dan gedung puskesmas yang rusak parah, para bidan ini tetap setia mendampingi ibu-ibu yang akan melahirkan.
Mereka terpaksa memindahkan pasien ke tenda darurat. Proses persalinan pun dilakukan di bawah penerangan seadanya, menggunakan lampu senter dari ponsel. Bidan Yoan, Bidan Ica, Bidan Lina, Bidan Nita, Bidan Tefin, dan Bidan Chen bekerja tanpa lelah sejak pagi hingga malam untuk memastikan ibu dan bayi selamat. Meskipun berpusat di 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT, gempa ini telah merenggut 51 nyawa dan merusak 14 fasilitas kesehatan. Puskesmas Maronggela, yang gedungnya rusak parah, kini sangat membutuhkan bantuan tenda darurat untuk melanjutkan pelayanan.
Kedua kisah ini, meski berbeda latar belakang dan lokasi, sama-sama mencerminkan semangat kepahlawanan yang tumbuh dari kesadaran masyarakat. Aksi heroik ibu dari Maluku Tengah, panjat tower 72 meter buat copot bendera RMS [titlebase], dan dedikasi para bidan di Flores, menunjukkan bahwa di tengah kesulitan, selalu ada individu yang berani tampil di depan untuk melindungi dan melayani sesama. Semangat ini adalah aset berharga bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi segala cobaan.
Peristiwa di Aboru yang melibatkan Welhemina Rumra/Sinay, dalam aksinya memanjat tower setinggi 72 meter untuk mencopot bendera RMS, kembali menegaskan bahwa masyarakat lokal memiliki suara dan keinginan yang kuat untuk menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI. Aksi heroik ibu dari Maluku Tengah, panjat tower 72 meter buat copot bendera RMS [titlebase], adalah manifestasi dari kecintaan pada tanah air dan penolakan terhadap segala bentuk upaya disintegrasi bangsa.






