Sulutexpres.com – 15 Agustus 2026 | Skandal Jeffrey Epstein terus mengungkap sisi gelapnya yang mengejutkan. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa mendiang pendiri Playboy, Hugh Hefner, pernah secara pribadi memperingatkan FBI pada tahun 2005 mengenai dugaan pelecehan dan perdagangan manusia yang dilakukan Epstein terhadap seorang mantan Playmate. Yang lebih mencengangkan, laporan tersebut mengaitkan salah satu korban dengan miliarder kasino asal Macau, Stanley Ho.
Menurut pengakuan Audra Lynn Christiansen, Miss October 2003, yang saat itu berusia 23 tahun, ia mendekati Hugh Hefner pada tahun 2005. Christiansen mengklaim bahwa Epstein telah melecehkan dan memperdagangkannya. Ia percaya bahwa laporannya akan lebih didengar jika disampaikan oleh sosok berpengaruh seperti Hefner. Atas permintaan Christiansen, Hefner dilaporkan menghubungi FBI berkali-kali atas namanya.
Dalam gugatan yang diajukan oleh 32 korban Epstein di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan Florida, terungkap bahwa Christiansen mengaku diperdagangkan kepada salah satu rekan bisnis Hefner yang kaya raya, yaitu Stanley Ho, seorang miliarder kasino dari Macau yang meninggal pada tahun 2020. Christiansen meminta Hefner untuk melaporkan dugaan tersebut karena ia memiliki ‘pengaruh’ untuk menarik perhatian pihak berwenang.
Also Read
Gugatan tersebut juga menyoroti dugaan kelalaian FBI yang gagal menindaklanjuti berbagai laporan mengenai Epstein dan pelecehan seksualnya yang telah ada sejak tahun 1996. Laporan investigasi dari tahun 2020 yang disertakan dalam pengajuan pengadilan menyebutkan bahwa Christiansen diperkenalkan kepada Epstein oleh agennya. Epstein kemudian ingin bertemu dengannya setelah pemotretan Playboy-nya diterbitkan.
Christiansen, yang kini berusia 46 tahun dan pernah tampil di serial televisi ‘The Girls Next Door’, baru dihubungi oleh FBI pada Oktober 2020, sekitar 15 tahun setelah Hefner melaporkan kekhawatirannya. Pengacara para korban mengkritik penanganan FBI terhadap dugaan tersebut, sementara pihak FBI sendiri berargumen bahwa mereka tidak diwajibkan untuk menyelidiki setiap keluhan yang diterima dan telah mengajukan mosi untuk menolak gugatan tersebut.
Sementara itu, isu-isu sosial di Tiongkok Daratan dan wilayah administratif khusus seperti Hong Kong dan Macau juga menjadi sorotan. Sebuah podcast BBC membahas tentang ‘manosphere’ di Tiongkok yang berbeda dengan di Barat, di mana frustrasi pria muda lebih banyak disalurkan melalui komunitas online terkait isu kencan dan biaya membangun keluarga. Podcast tersebut juga menyoroti bagaimana Beijing menargetkan suara-suara feminis dan misoginis online, serta upaya pemerintah dalam mengendalikan percakapan mengenai gender dan stabilitas sosial di Tiongkok.
Di sektor ekonomi, perusahaan DPC Dash Ltd, pemegang waralaba utama Domino’s Pizza di Tiongkok Daratan, Hong Kong, dan Macau, dijadwalkan mengumumkan hasil keuangan interim mereka pada 26 Agustus 2026. Laporan ini akan mencakup kinerja operasional 1.550 toko yang mereka kelola di Tiongkok Daratan hingga Juni 2026.
Di sisi lain, Studio City International Holdings Limited, sebuah resor terpadu di Cotai, Macau, melaporkan hasil keuangan kuartal kedua 2026 yang menunjukkan penurunan pendapatan operasional total menjadi US$164,6 juta, dibandingkan US$190,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kinerja yang lebih lemah dalam operasi permainan meja pasar massal dan penurunan pendapatan non-perjudian secara keseluruhan. Pendapatan kotor dari kasino mencapai US$357,7 juta, sedikit turun dari US$359,6 juta pada kuartal kedua 2025.






