Sulutexpres.com – 01 Agustus 2026 | Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran semakin memanas, dengan Presiden Trump berada di pusat perhatian. Laporan terbaru menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Trump terkait Iran telah menimbulkan kekhawatiran serius, baik di kalangan domestik maupun internasional. Dukungan Partai Republik terhadap kebijakan ini kini dipertanyakan, seiring dengan gelombang ketidakpuasan publik yang mulai terlihat.
Di tengah kampanye presidensial yang seharusnya menekankan perdamaian, Trump justru dituding bertindak sebagai ‘pembuat onar perang’. Janjinya untuk menghindari perang baru dan kritiknya terhadap kebijakan luar negeri mantan Presiden Joe Biden kini berbenturan dengan retorika agresifnya terhadap Iran. Hal ini diperparah dengan dukungan penuh dari Partai Republik di Kongres, yang memilih untuk melanjutkan pendanaan besar-besaran untuk konflik yang semakin tidak populer.
Sebuah survei terbaru dari Washington Post mengungkapkan bahwa hampir 70 persen warga Amerika menganggap perang tersebut tidak layak diperjuangkan. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan titik terendah dukungan publik selama perang di Irak dan Afghanistan. Ketidakpuasan ini diperkirakan akan menjadi pertanyaan krusial yang dihadapi para politisi Republik ketika mereka kembali ke daerah pemilihan mereka.
Also Read
Meskipun Trump pernah menjanjikan penyelesaian perjanjian damai dengan Iran pada periode waktu tertentu, kini ia hanya mengindikasikan ‘peluang bagus’ untuk kemajuan negosiasi, di tengah ancaman serangan yang terus dilontarkan. Ketidakpastian ini semakin mengikis kepercayaan publik. Upaya pembatasan kekuasaan perang presiden oleh Kongres pun gagal, lantaran sebagian besar anggota Partai Republik memilih untuk tetap mendukung Trump.
Speaker DPR Mike Johnson, meskipun menyatakan keinginannya agar perang segera berakhir, justru memimpin rekan-rekannya untuk mendukung legislasi yang berpotensi memperpanjang konflik. Partai Republik baru-baru ini menyetujui dua rancangan undang-undang yang mengalokasikan lebih dari 70 miliar dolar untuk perang yang tidak populer ini. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, seperti Richard Neal dari Massachusetts, menyoroti kontras antara pengeluaran besar untuk perang Trump dan minimnya alokasi untuk kebutuhan domestik seperti layanan kesehatan yang lebih terjangkau.
Operasi ‘Epic Fury’ yang diluncurkan pada Februari lalu diprediksi Trump hanya akan berlangsung selama empat hingga lima minggu. Namun, kini telah memasuki bulan keenam, dengan perkiraan 1 dari 5 warga Amerika menduga perang akan berlanjut bertahun-tahun. Kekhawatiran finansial juga membayangi, dengan estimasi biaya perang yang telah mencapai hampir 75 miliar dolar, membebani konsumen.
Selain kerugian finansial, korban jiwa dari perang ini juga tidak sedikit. Sebanyak 18 personel militer AS tewas dan lebih dari 620 terluka. Jumlah korban sipil di pihak non-Amerika diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 jiwa, meskipun angka pastinya belum diketahui. Trump sendiri dituding meremehkan angka korban di pihak AS dengan membandingkannya dengan jumlah korban dalam Perang Vietnam.
Di sisi lain, citra Trump terus diupayakan untuk diperkuat melalui berbagai cara. Departemen Luar Negeri AS telah mencetak tambahan 250.000 paspor yang menampilkan gambar presiden, sebuah langkah yang menimbulkan pertanyaan mengenai tujuannya. Inisiatif ini disebut-sebut sebagai bagian dari perayaan 250 tahun Amerika Serikat, namun pemilihan Trump sebagai satu-satunya figur presiden yang ditampilkan, alih-alih mantan presiden lainnya, menuai kritik. Proyek-proyek lain, seperti penerbitan koin emas $1 dan penggantian nama bandara Palm Beach menjadi ‘President Donald J. Trump International Airport’, semakin memperkuat persepsi tentang upaya penguatan citra diri sang presiden.
Sementara itu, ketegangan dengan Iran juga merembet ke ranah siber. Sistem air di berbagai negara bagian AS dilaporkan menjadi sasaran serangan siber yang meluas. Penyelidikan intensif sedang dilakukan untuk mengungkap pelaku, dengan dugaan kuat mengarah pada kelompok peretas yang terkait dengan Iran. Namun, ada pula kemungkinan bahwa taktik ini sengaja ditiru untuk menciptakan distraksi politik di tengah memanasnya hubungan AS-Iran.
Di tengah situasi yang kompleks ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendesak AS dan sekutu Baratnya untuk menyediakan lebih banyak sistem pertahanan rudal Patriot. Ia menyebutkan diskusi positif dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan pertemuan dengan Trump, namun menekankan bahwa prioritas utama tetap pada pertahanan udara. Pernyataan Trump mengenai lisensi pembuatan sistem Patriot untuk Ukraina sempat menimbulkan kebingungan, dengan ia sendiri menyatakan belum membuat keputusan final.
Analisis terhadap situs yang diduga terkait program nuklir Iran, yang dikenal sebagai ‘Pickaxe Mountain’, juga semakin intensif. Trump berulang kali mengancam akan menyerang situs ini, yang diyakini tersembunyi di dalam gunung dan menjadi lokasi potensial penyimpanan uranium yang diperkaya tinggi. Iran sendiri membantah adanya aktivitas nuklir di sana dan menyebut ancaman AS sebagai dalih untuk agresi.
Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya lanskap geopolitik saat ini, dengan kebijakan luar negeri Trump yang terus menjadi sorotan dan menimbulkan konsekuensi yang luas, mulai dari potensi konflik bersenjata hingga serangan siber, serta dampaknya pada persepsi publik dan hubungan internasional.






