Kemarahan Australia Memuncak: Israel Tawarkan Restitusi Keluarga Zomi Frankcom Pasca Keputusan Kontroversial

Kemarahan Australia Memuncak: Israel Tawarkan Restitusi Keluarga Zomi Frankcom Pasca Keputusan Kontroversial
Kemarahan Australia Memuncak: Israel Tawarkan Restitusi Keluarga Zomi Frankcom Pasca Keputusan Kontroversial

Sulutexpres.com – 21 Agustus 2026 | Keputusan Israel untuk tidak menuntut para perwira yang terlibat dalam serangan drone yang menewaskan pekerja kemanusiaan Australia, Zomi Frankcom, pada tahun 2024, telah memicu kemarahan besar dari pemerintah Australia. Menanggapi gelombang ketidakpuasan ini, Israel kini membuka pintu untuk pembayaran restitusi kepada keluarga Frankcom dan kemungkinan mantan Kepala Angkatan Bersenjata Australia, Mark Binskin, akan kembali ke Israel untuk menindaklanjuti penyelidikan awalnya.

Duta Besar Israel untuk Australia, Hillel Newman, dalam pernyataan yang terdengar lebih lunak pada hari Jumat, mengungkapkan bahwa Israel terbuka untuk diskusi mengenai aspek hukum terkait kematian Zomi Frankcom. “Kami dapat berbagi informasi dengan tim hukum Australia, dan aspek restitusi dapat diperiksa secara definitif,” ujar Newman, mengindikasikan kesediaan Israel untuk menenangkan pemerintah Australia yang merasa kecewa.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, telah menyampaikan ketidakpuasannya kepada rekan sejawatnya dari Israel, Gideon Sa’ar, mengenai keputusan Jaksa Militer Israel yang tidak menjatuhkan dakwaan pidana terhadap tentara yang bertanggung jawab atas kematian Frankcom. Baik Wong maupun Perdana Menteri Anthony Albanese telah menyebut keputusan tersebut sebagai sebuah “keterlaluan”, sementara keluarga Zomi Frankcom menyatakan kekecewaan mendalam dan menuntut penyelidikan independen atas insiden tersebut.

Pada April 2024, Zomi Frankcom, 43 tahun, tewas bersama enam rekannya dalam serangan tiga drone Israel di Gaza tengah saat mereka sedang dalam misi pengiriman bantuan makanan. Konvoi yang mereka gunakan telah ditandai dengan jelas sebagai kendaraan kemanusiaan dan rute perjalanan mereka telah dikomunikasikan kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Insiden ini memicu kecaman internasional dan pertanyaan serius mengenai akuntabilitas dalam operasi militer.

Newman menambahkan bahwa keputusan Jaksa Militer Israel mencerminkan penyelidikan sebelumnya yang dilakukan oleh Mark Binskin atas permintaan pemerintah Australia pada tahun 2024. Penyelidikan Binskin menyimpulkan bahwa para pekerja kemanusiaan tersebut tidak ditargetkan secara sengaja, sebuah temuan yang tampaknya menjadi dasar bagi keputusan IDF saat ini. Namun, pernyataan ini belum meredakan kekecewaan Australia, yang berpendapat bahwa “kegagalan serius dalam proses” tidak cukup untuk menjelaskan hilangnya nyawa seorang warga negaranya.

Saudara laki-laki Zomi Frankcom, dalam sebuah pernyataan yang emosional, menggambarkan keputusan Israel sebagai “penghinaan” terhadap mendiang saudara perempuannya. Ia menekankan bahwa lebih dari dua tahun setelah kematian Zomi, tidak ada penutupan atau keadilan yang dirasakan oleh keluarganya. Ia juga mempertanyakan klaim Duta Besar Israel mengenai keputusan pengadilan, menyatakan tidak ada bukti keterlibatan pengadilan yang independen dalam kasus ini.

Keluarga Frankcom, bersama dengan pemerintah Australia, terus menekan Israel untuk memberikan penjelasan yang jelas dan transparan mengenai bagaimana serangan itu terjadi. Perdana Menteri Albanese secara tegas menyatakan bahwa Australia “pantang menyerah” dalam menuntut penyelidikan yang cermat dan independen. Ia mengkritik laporan Israel sebagai “laporan yang tidak ada apa-apanya” dan menekankan bahwa “Australia pantas mendapatkan yang lebih baik”.

Kasus Zomi Frankcom menyoroti kompleksitas hukum perang dan tantangan dalam mencapai akuntabilitas ketika insiden terjadi di zona konflik. Meskipun Israel mengklaim telah melakukan penyelidikan internal, keputusan untuk tidak menuntut siapa pun menimbulkan pertanyaan tentang kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, terutama ketika melibatkan kelalaian berat atau kelalaian yang disengaja yang mengakibatkan hilangnya nyawa sipil.

Pemerintah Australia kini tengah mempertimbangkan langkah-langkah diplomatik lebih lanjut, termasuk kemungkinan meminta Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk menyelidiki kasus ini, meskipun Israel bukan anggota ICC. Dukungan Australia terhadap ICC selama ini menjadi salah satu faktor yang dapat dimanfaatkan dalam upaya mencari keadilan bagi Zomi Frankcom dan keluarganya. Kasus ini menjadi ujian penting bagi hubungan bilateral Australia-Israel dan komitmen kedua negara terhadap prinsip-prinsip keadilan dan akuntabilitas internasional.

Related Post

Terbaru