SULUT, sulutexpres.com – Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 menjadi panggung penting bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk menegaskan kembali arah pembangunan daerah di tengah dinamika ekonomi global. Dalam sambutan Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE yang dibacakan Asisten III Fransiscus Manumpil, ditegaskan bahwa sinergitas dan kebersamaan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci yang mengubah tantangan menjadi peluang, serta menjadi kekuatan besar bagi Sulawesi Utara untuk tetap tumbuh di atas rata-rata nasional.
Gubernur Yulius menilai bahwa kekompakan yang telah terbangun antara pemerintah, sektor swasta, dunia usaha, perbankan, serta masyarakat memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas perekonomian Sulut. Hal ini tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas 5% dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menunjukkan ketahanan Sulut menghadapi gejolak eksternal.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut, Renold Asri, dalam kesempatan yang sama mempertegas optimisme tersebut. Ia membeberkan bahwa ekonomi Sulut tumbuh 5,39% (yoy) pada triwulan III 2025—lebih tinggi daripada pertumbuhan nasional. Tak hanya itu, digitalisasi sistem pembayaran juga melonjak tajam. Dengan lebih dari 355 ribu merchant QRIS, 514 ribu pengguna aktif, dan nominal transaksi mencapai Rp4,63 triliun sepanjang 2025, Sulut mengukuhkan diri sebagai salah satu daerah dengan adopsi digital tertinggi di Kawasan Timur Indonesia. Di sisi lain, tingkat elektronifikasi transaksi pemerintah daerah juga tetap berada pada kategori Digital dengan indeks 90%.
Melihat fondasi ekonomi yang semakin kuat, Gubernur Yulius menegaskan bahwa tahun mendatang menjadi momentum percepatan pembangunan. Program prioritas Sulut tahun 2026 akan difokuskan pada tiga pilar utama: pembangunan infrastruktur dan penguatan sektor produktif, pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal, serta peningkatan perekonomian dan investasi daerah. Ketiga pilar ini dirancang selaras dengan target makro daerah pertumbuhan ekonomi 6,05–7,05%, pengendalian inflasi di kisaran 3% ± 1%, penurunan pengangguran hingga 4,86%, serta penguatan kualitas hidup yang tercermin dari kenaikan IPM menjadi 77,06.
Keterkaitan antara program prioritas dan capaian ekonomi daerah menjadi jelas: transformasi digital mendorong efisiensi dan inklusi keuangan; pertumbuhan sektor pertanian, perikanan, UMKM, dan pariwisata menopang ketahanan ekonomi; sementara pembangunan infrastruktur ditujukan untuk memperkuat konektivitas dan produktivitas wilayah. Semua agenda ini terangkai dalam visi jangka panjang Gubernur Yulius untuk menjadikan Sulawesi Utara sebagai daerah yang kompetitif, modern, dan berdaya saing global.
Gubernur Yulius menutup pesannya dengan mengajak seluruh komponen daerah untuk terus menjaga komitmen, memperkuat sinergi, serta merawat kebersamaan demi pencapaian-pencapaian besar di masa depan. Sebab, menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya terletak pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada persatuan langkah seluruh masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata di Bumi Nyiur Melambai.






