MANADO, sulutexpres.com – Pada Kamis (27/11/2025), Luwansa Hotel Manado berubah menjadi pusat aktivitas akademik. Ruang-ruang konferensi terisi penuh oleh ratusan mahasiswa dari kampus-kampus ternama di Sulawesi Utara — termasuk Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) dan Universitas Islam Negeri Paulus Manado (UNIMA), serta kampus-kampus lain yang datang untuk mengikuti Liga Debat Mahasiswa Sulawesi Utara 2025 (LDM Sulut).
Para peserta, dosen pembimbing, dan tamu undangan memenuhi ruangan dengan suasana penuh gairah—memperdebatkan isu-isu aktual, mengeksplorasi gagasan, dan menunjukkan kapasitas intelektual mereka. Suara debat, tepuk tangan, dan sorak semangat menjadi bagian dari hiruk-pikuk yang menandai semangat akademik Sulut yang tinggi.
Tidak hanya sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang jejaring: mahasiswa dari berbagai kampus saling bertukar pandangan, membangun relasi, serta menunjukkan bahwa generasi muda Sulut memiliki potensi dan ambisi untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Di tengah atmosfer intelektual itu, hadir pula pejabat tinggi pemerintahan—ini memberi bobot lebih karena diskursus akademik berjumpa dengan visi kebijakan publik. Dan tepat di momen inilah, sebuah pengumuman besar disampaikan.
Saat forum debat mencapai puncaknya, Gubernur Sulut, Yulius Selvanus — yang baru menjabat sejak Februari 2025. (Wikipedia) — naik ke panggung. Dengan dihadiri ribuan mahasiswa, akademisi, serta petinggi kampus, ia menyampaikan kabar menggembirakan:
“Saya akan buka Universitas Bolaang Mongondow. Kita akan bekerjasama dengan UNSRAT, UNIMA termasuk ITB.”
Pernyataan ini lantas disambut riuh tepuk tangan dan sorak antusias dari seluruh hadirin — menandakan besarnya harapan dan optimisme terhadap masa depan akses pendidikan tinggi di daerah yang jauh dari pusat Kota Manado.
Maksud dari “Universitas Bolaang Mongondow” di sini adalah perguruan tinggi baru di wilayah Bolaang Mongondow dan kawasan BMR, sebagai bagian nyata dari upaya desentralisasi pendidikan tinggi dan pemerataan akses bagi masyarakat di luar pusat kota. Pernyataan ini bukan hal baru: sejak awal 2025, Yulius Selvanus secara konsisten menyatakan komitmennya untuk mendirikan universitas di BMR — bahkan telah dilakukan survei lokasi di beberapa titik strategis di Bolmong.
Dalam sebuah publikasi Maret 2025, disebutkan bahwa pemerintah berencana membangun perguruan tinggi — di antaranya kampus yang disebut Universitas Islam Bogani dengan anggaran awal sekitar Rp 30 miliar. Lokasi yang paling memungkinkan dipilih karena strategis, dekat dengan fasilitas umum, dan cocok secara geografis.
Dengan pengumuman langsung di hadapan mahasiswa dan akademisi dari kampus-kampus besar seperti UNSRAT dan UNIMA, sinyal yang diberikan sangat jelas: pemerintah provinsi serius membuka ruang pendidikan tinggi baru yang dapat menjangkau jauh ke wilayah BMR.
Pengumuman ini membawa sejumlah makna besar:
• Pemerataan akses pendidikan tinggi — Selama ini, kampus-kampus besar di Sulut banyak berkonsentrasi di Manado atau kota besar lain. Dengan hadirnya universitas di BMR, mahasiswa dari wilayah lebih terpencil tidak perlu jauh-jauh ke kota, mengurangi beban logistik, keuangan, dan memudahkan akses bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
• Pembangunan sumber daya manusia lokal, Dengan pendidikan tinggi yang dekat dan mudah diakses, kesempatan generasi muda di BMR untuk mendapatkan pendidikan berkualitas meningkat; ini bisa mengurangi kesenjangan pendidikan dan memperkuat kapasitas SDM lokal.
• Desentralisasi pembangunan dan pemerataan kesempatan — Pendirian kampus baru menunjukkan bahwa pemerintah tak hanya fokus pada pusat kota, tetapi juga memperhatikan daerah pinggiran. Sebuah sinyal bahwa pembangunan tidak hanya infrastruktur fisik, tapi juga pembangunan manusia dan intelektual.
• Potensi kolaborasi akademik & kualitas pendidikan — Jika betul universitas baru akan bekerja sama dengan kampus besar seperti UNSRAT, UNIMA, bahkan disebut “termasuk ITB”, maka ada peluang transfer pengetahuan, kurikulum berkualitas, serta jejaring akademik yang dapat memperkuat reputasi dan mutu pendidikan di BMR.
• Harapan perubahan sosial-ekonomi — Pendidikan tinggi membuka peluang bagi mobilitas sosial, peningkatan pengetahuan, inovasi, serta membuka ruang bagi generasi muda BMR untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah — bukan hanya ekonomi, tapi juga sosial dan budaya.
Rencana pendirian perguruan tinggi di Bolaang Mongondow Raya sudah sejak awal 2025 dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Sulut.
Pada 14 Maret 2025, Gubernur bersama pejabat daerah dan keamanan melakukan peninjauan lokasi-lokasi potensial — salah satunya di Desa Ambang 2, Kecamatan Bolaang Timur. Luas lahan yang disiapkan kurang lebih 10 hektare.
Beberapa opsi lokasi lain di Desa Langagon, Desa Inuai, dan Desa Lolak juga sempat dibahas menunjukkan bahwa proses menentukan lokasi strategis sedang berjalan dengan mempertimbangkan aspek akses, lingkungan, dan tata ruang.
Pemerintah bahkan menargetkan bahwa dalam tiga tahun ke depan perguruan tinggi tersebut bisa diwujudkan menunjukkan ambisi yang cukup realistis bila didukung regulasi, dana, dan kolaborasi dengan pemerintah pusat serta kampus mitra.
Bagi mahasiswa dan masyarakat di BMR, pengumuman ini bila terealisasi berarti harapan nyata: akses ke pendidikan tinggi berkualitas tanpa harus “merantau” jauh, beban biaya dan logistik bisa lebih ringan, dan kemungkinan bangun karier tanpa meninggalkan kampung halaman.
Bagi kampus-kampus besar di Manado seperti UNSRAT dan UNIMA, ini bisa membuka peluang perluasan pengabdian, kolaborasi akademik, transfer pengetahuan, serta memperluas jangkauan pengaruh mereka ke daerah-daerah.
Secara lebih luas, hal ini menunjukkan bahwa pembangunan di Sulawesi Utara tidak hanya diletakkan pada ekonomi, infrastruktur, ataupun pariwisata tetapi juga pada pembangunan manusia melalui pendidikan. Ini penting agar hasil pembangunan lebih merata, inklusif, dan berkelanjutan.
Dan bagi generasi mendatang: ini bisa membuka pintu kesempatan besar. Generasi muda BMR bisa memperoleh pendidikan tinggi, lalu kembali ke kampung halaman membawa ilmu, inovasi, dan kontribusi membantu pembangunan lokal, mengurangi kesenjangan, memperkuat komunitas.
Pengumuman pendirian universitas di Bolaang Mongondow Raya oleh Gubernur Yulius Selvanus di tengah hiruk-pikuk debat mahasiswa bukan sekadar retorika melanjutkan komitmen yang sudah berjalan sejak awal 2025. Namun, keberhasilan gagasan ini sangat bergantung pada langkah konkret: penetapan lokasi, perizinan dengan pemerintah pusat, pendanaan, kolaborasi akademik, serta kesinambungan implementasi.
Mahasiswa, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan tentu berharap jika benar terealisasi bahwa universitas baru ini bukan hanya menjadi simbol, tetapi institusi nyata yang mampu menghasilkan generasi unggul, dan membawa perubahan sosial ekonomi yang nyata di BMR dan Sulawesi Utara secara lebih luas.






