Sulutexpres.com – 04 Agustus 2026 | Bayang-bayang panas ekstrem: El Nino kuat intai Samarinda, tiga kecamatan masuk zona merah karhutla merupakan fenomena alam yang saat ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah. Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin, menyebut Super El Niño sudah terbentuk dengan intensitas yang diperkirakan naik 0,1 derajat per minggu. Hal ini berdasarkan indeks harian El Niño relatif 3,4 yang telah mencapai lebih dari 2 derajat Celsius pada 31 Juli 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyebut Indonesia memasuki fase El Niño kuat, yang berarti warga dan pemerintah perlu waspada terhadap bahaya kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Nilai indeks Niño 3.4 dasarian (per 10 hari) sebesar +2.26 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28.2 menandakan berlangsungnya El Niño kuat yang diperkirakan dapat terus menguat.
Bayang-bayang panas ekstrem: El Nino kuat intai Samarinda, tiga kecamatan masuk zona merah karhutla ini merupakan peringatan serius bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Fenomena El Niño kuat dapat mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai daerah, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran.
Also Read
Bayang-bayang panas ekstrem: El Nino kuat intai Samarinda, tiga kecamatan masuk zona merah karhutla juga menuntut pemerintah untuk segera mengambil tindakan preventif dan mitigatif untuk mengurangi dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama untuk menghadapi fenomena alam ini dan mengurangi risiko bencana yang dapat terjadi.
Kesimpulan dari fenomena Bayang-bayang panas ekstrem: El Nino kuat intai Samarinda, tiga kecamatan masuk zona merah karhutla adalah bahwa masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan demikian, kita dapat mengurangi risiko bencana dan menghadapi fenomena alam ini dengan lebih siap.





