SULUT, SulutExpres.com – Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling SE terus mengkampanyekan pentingnya menanam, terutama dalam konteks ketahanan pangan dan lingkungan.
Pemerintah Provinsi Utara melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Daerah Prov. Sulawesi Utara yang membawahi irigasi, secara proaktif mengajak partisipasi masyarakat dalam program kerja bakti pembersihan saluran irigasi. Upaya ini bertujuan untuk mendukung program ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Bidang Irigasi Dinas PUPRD Prov. Sulawesi Utara secara aktif menyosialisasikan aturan yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kerja bakti. Hal ini penting untuk memastikan seluruh pihak memahami peran dan tanggung jawab masing-masing.
Para juru pengairan berperan aktif dengan terus memimpin dan mengoordinasikan kerja bakti di lapangan. Mereka memimpin upaya pembersihan saluran irigasi yang tersumbat akibat lumpur, longsor, atau endapan.
Upaya ini mencerminkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Partisipasi masyarakat petani dalam pemeliharaan jaringan irigasi sangat penting untuk menjaga kelancaran pasokan air.
“Masyarakat petani, yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), memiliki peran aktif dalam pemeliharaan jaringan irigasi. P3A bertanggung jawab untuk pemeliharaan rutin, seperti membersihkan saluran dari gulma dan lumpur. Hal ini untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan bagi masyarakat,” imbau Kepala Dinas PUPR Daerah Prov. Sulawesi Utara Ir. Deicy Paath ST, M.Si melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air Ir. Reinhard R. Wariki, ST,
Dengan keterbatasan anggaran Pemprov untuk Operasi dan Pemeliharaan (O&P) jaringan irigasi, partisipasi aktif dari masyarakat yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) atau P3TGAI sangat krusial agar pemeliharaan tetap berjalan. Prinsip ini dikenal sebagai Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Partisipatif.
“Inisiatif untuk menumbuhkan kesadaran dan komitmen petani terhadap budidaya padi sangat penting, terutama karena beras adalah kebutuhan pokok,” ujar Reinhard.
Tuntutan kesadaran para petani untuk tidak menanam nilam terus-menerus merujuk pada kekhawatiran bahwa budidaya monokultur nilam bisa merusak kesuburan dan struktur tanah dalam jangka panjang.
“Hal ini untuk membangun komitmen masyarakat petani untuk mencintai tanaman padi memiliki dasar yang kuat. Kecintaan petani terhadap tanamannya merupakan kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Diimbau agar masyarakat yang menanam nilam di sawah segera sadar dan mengubah kebiasaannya. Selain itu komitmen dengan pihak kepolisian menunjukkan adanya tindakan hukum yang tegas bagi siapa pun yang merusak jaringan irigasi.
(Egen)






